Faktor-Faktor Munculnya Sinonim Bahasa Arab

 A. Pengertian Sinonim Bahasa Arab (الترادف)

Sinonim adalah salah satu dari fenomena bahasa yang universal termasuk di dalamnya bahasa indonesia dan bahasa arab. Dalam bahasa arab sinonim dikatakan الترادف. Taraduf sendiri berasal dari kata (rodafa) yang berarti mengikuti atau menuruti.  Dalam kamus al wasit ada dua penjelasan mengenai الترادف, yaitu:

a)  Taraduf adalah  ركب أحدهما خلف الآخر  satunya menunggang dibelakang yang satu lagi”. Jika di perhatikan pengibaratan tersebut maksudnya adalah ada menunggangi kuda kemudian ada yang ikut menunggangi kuda dibelakangnya tetapi dengan kuda yang berbeda. Berkaitan dengan sinonim dari pengibaratan tersebut dapat disimpulkan bahwa sinonim itu dua kata atau lebih yang berbeda akan tetapi memiliki kesamaan dari segi arti dan makna.

b) Taraduf adalah ترادف الكلمتين أن تكونا بمعنى واحد Dua perkataan yang saling mengikuti untuk menjadi satu makna”. Maksudnya adalah antar kata yang mempunyai makna yang sama.


B. Faktor-Faktor Munculnya Sinonim Bahasa Arab

               Bahasa arab adalah bahasa yang unik. Bahasa Arab dibandingkan dengan bahasa asing lain adalah yang memiliki kosakata terbanyak.  Dalam bahasa Arab, satu kata saja bisa menunjukkan kepada beberapa makna atau arti. [1] Mengapa demikian? Karena terdapat faktor yang menyebabkan hal tersebut. Begitu juga dengan Bahasa Indonesia memiliki sinonim yang banyak. Akan tetapi bila dibandingkan dengan Bahasa Arab, sinonim Bahasa Indonesia masih terbilang sedikit.

1.      Adanya Pengintregasian Antar Bahasa

                Bahasa Arab (bahasa Quraish) yang sangat terbuka dan juga respon terhadap beberapa dialeg (lahjah) bahasa Arab disekitarnya yang menjadi salah satu faktor munculnya sinonim Bahasa Arab. [1] Adanya interaksi antar Bangsa yang masing-masing daerah memiliki dialeg berbeda. Dialeg Bahasa adalah vasiasi atau ragam bahasa yang berbeda-beda menurut pemakai bahasa tersebut atau biasa disebut dengan logat bahasa. Dialeg Bahasa dapat digunakan sebagai acuan dalam mengenali identitas pemilik Bahasa.[2] Misalnya masyarakat Mesir menyebut alat komunikasi dengan تلفون , sedangkan orang Teluk Persia (Arab Saudi, Iran, Kuwait, Bahrain, dan sebagainya) menyebutnya dengan هاتف. Dan pada kalimat yang menunjukkan “ketidaktahuan”, masyarakat Mesir mengatakan ما أعرفش, sedangkan masyarakat Arab Saudi mengatakan ما أدرى.[3] Contoh tadi adalah fakta bahwa nama suatu benda dalam pengungkapannya berbeda terhadap daerah satu dengan daerah lainnya. Dikarenakan adanya pembauran atau pengintegrasian bahasa yang satu terhadap bahasa yg lain yang menyebabkan munculnya kosakata memiliki makna yang sama, hal ini disebut dengan serapan. Faktor ini terjadi juga dalam Bahasa Indonesia. Dalam Bahasa Indonesia terdapat kata “maksud”, “makna” dan “yakni”. Ketiga bahasa tersebut adalah sama atau bersinonim yang menunjukkan sebuah defenisi. Dan perlu diketahui bahwa kata “makna” adalah serapan dari mufrodat Bahasa Arab yaitu معنى. Kemudian pada kata “makar” menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), bersinonim dengan akal busuk, tipu muslihat.[1] Dan kata “makar” juga adalah serapan dari kosakata Bahasa Arab yaitu مَكَرَ - يَمْكُرُ - مَكْرًاyang berarti menipu.[2]

2.   Ketidaktelitian Penulis Kamus

Ketidaktelitian seorang penulis Kamus Bahasa dan tidak di seleksi secara ketat kosakata yang di tulis, menyebabkan masuknya kosakata yang bukan berasal dari bahasa tersebut akan tetapi artinya sama.[3] Contohnya pada Bahasa Arab yang mana banyak rumpun bahasa semit yang tertulis di kamus-kamus Bahasa Arab.

3.      Bersinonim Tetapi Memiliki Makna yang Berbeda

              Kosakata yang bersinonim pada hakikatnya memiliki makna yang berbeda. Contoh pada kata على dan فوق  yang keduanya berarti di atas. Akan tetapi makna keduanya berbeda, على sendiri bermakna di atas tetapi menempel sedangkan فوق bermakna di atas tetapi tidak menempel. Contoh kalimat nya adalah قَلَمٌ عَلَى المَكْتَبِ (Pulpen di atas meja) dan مِصْبَاحٌ فَوْقَ المَكْتَبِ  (Lampu diatas meja). Dikarenakan pada arti di katakan sama, maka dapat dikatakan sinonim walaupun makna pada masing-masing kata sudah berbeda.

4.     Perbedaan pada Nilai Makna

               Pada Bahasa Indonesia sendiri terdapat kata yang bersinonim akan tetapi pada makna emotif (nilai rasa) dan nilai evaluatif  nya yang berbeda.[4] Makna emotif adalah makna yang ditimbulkan karena adanya reaksi pembicara dalam mengatakan suatu kata. Contoh pada kata mati; meninggal; wafat, yang mana ketiga kata tersebut bermakna makhluk yang sudah tidak bernyawa. Akan tetapi jika ditinjau dari makna emotifnya kata “mati” biasanya ditujukan kepada hewan atau tumbuhan yang sudah tidak bernyawa kalau ditujukan kepada manusia akan berkesan tidak sopan, kata “meninggal dan wafat” biasanya ditujukan kepada manusia yang sudah tidak bernyawa dan mengandung nilai kesopanan atau lebih sopan ketika mengucapkannya. Inilah faktor munculnya sinonim, walaupun dari segi nilai emotif nya berbeda akan tetapi bisa dikatakan sinonim karena kedua nya berarti sama.









Komentar